Rabu, 23 September 2009

Apakah Jin mengetahui ilmu Ghaib?

Pertanyaan:
Apakah Jin mengetahui ilmu ghaib? Kami mengharap penjelasan dari Antum dalam waktu yang tidak lama.

Jawaban:
Ilmu ghaib termasuk kekhususan dalam kerububiyahan Allah, maka tidak ada yang mengetahui ilmu ghaib di langit maupun dibumi kecuali Allah. Allah berfirman dalam Surat Al-An'am 59

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia”

Allah jalla jalaluhu juga berfirman dalam Surat An-Naml:65

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah",

Dan jin tidak mengetahui yang ghaib, dalilnya adalah firman Allah dalam surat Saba':14

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ

"Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan"

Dan barangsiapa yang mengaku mengetahui 'ilmu ghaib maka di kafir, dan barangsiapa yang membenarkan orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib maka dia juga kafir karena berarti ia mendustakan Al-Quran

Hanya Allah-lah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada pengikut dan para sahabatnya


Lajnah Daimah lil Buhuts Al-'Ilmiyah wal Ifta.

  • Ketua: 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Bazz
  • Wakil: 'Abdul 'Aziz Alu Syaikh
  • Anggota: Shalih Fauzan, Bakr Abu Zaid

    - 22 Juni 2009

Diterjemahkan dari:
http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&PageID=310&PageNo=1&BookID=12


Sumber :

Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsi Al-'Ilmiyyah wal Ifta. :

http://www.perpustakaan-islam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=266:apakah-jin-mengetahui-ilmu-ghaib&catid=35:aqidah

23 September 2009

Sekilas Tentang Jin

Innasyaithonu kaana minal jinni fafasaqa an amri robbihi" Sesungguhnya Syetan itu bagian dari Jin yang membangkang pada perintah Rabb-nya. Jadi setiap jin yang fasiq adalah Syetan, menurut ayat itu. Syetan juga bisa berasal dari manusia (surat annaas ayat 4 hingga 6). Jadi jin yang biasa mengganggu manusia baik yang merasuki jiwa (membuat kesurupan), maupun masuk tapi tidak membuat orang kesurupan adalah kategori syetan.

Kedua, adakah Jin yang masuk kedalam tubuh manusia tapi tidak menjadikan orang kesurupan ? Ada ! Dalam kondisi ini Jin masuk kedalam tubuh manusia lalu mempengaruhi amal ybs dengan amal-amal buruk serta keinginan-keinginan buruk, mereka ini adalah golongan syetan (ke satu diatas). Indikasinya, jika pada diri kita ada gelinjang-gelinjang keburukan atau amal-amal buruk, maka itu dari syetan (syaithon) dan kita telah terbujuk olehnya. Karenanya, segeralah jika sudah terlanjur melakukan amal buruk, bertaubatlah dan jangan ulangi. Rasulullah mengatakan "... wa 'utbi'ussyayyiatal hanata tamhuuha" maka ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya ia akan menimpanya. Lakukanlah amal sholeh sebagai kafarat (penebus) keburukan yang pernah kita lakukan. Contoh applikasi hadits ini, diantara shahabat nabi ada yang terlambat jamaah shalat ashar dikarenakan menikmati jalan-jalan dikebun kurma-nya yang lebat. Lalu ketika didapatinya shalat ashar tersebut hampir selesai dan ia masbukh, maka segera ia ikrarkan kebun kurma yang ditinjau-nya tadi untuk di infaqkan, sebagai wujud kafarat pada dirinya. Karena beliau R.A. menganggap dirinya telah berdosa karena lalai dalam shalat berjama'ah ashar.

Lalu adakah jin yang muslim dan shaleh ?

Banyak..! Quran Surat Jin ayat 11 menjawab hal ini. Lalu mengapa Jin masuk dan merasuki manusia ? Banyak alasan mereka. Ada yang hanya karena iseng, ada yang karena terganggu tempatnya yang tadinya sepi jadi rame atau kamar yang tadinya di tempati jadi suka dipakai pengajian atau suka dijadikan tempat shalat berjamaah atau jadi tempat ibadah lainnya, lalu ia marah karena merasa terusik, balas dendam dengan ngamuk (ngambek kayak anak kecil). Ada juga yang memang spesialisasinya membuat orang kesurupan. Sebab dengan membuat orang kesurupan otomatis akan menghalangi ia dari ibadah kepada Allah.

Sekali lagi, bahwa Jin yang seperti itu adalah Syaithon. Tak perlu takut, sebab mereka juga makhluk seperti kita, mereka juga kawin dan beranak, mereka juga bisa marah dan ramah, mereka juga ada yang sholeh dan ada yang bergajul. Bedanya, mereka tidak terlihat. Dan jin yang sholeh tidak pernah melakukan aksi membuat orang kesurupan, jadi jangan terkecoh kalau ada orang melihat orang kesurupan lalu minta ngaji atau dibacakan Qur'an, lantas kita beranggapan yang masuk jin Islam. Bohong..! Sebab jin yang sholeh sibuk beribadah kepada Allah dan berda'wah dikalangan jin, mana mungkin waktu mereka di
manfaatkan untuk "nyurup" kemanusia.

Siapa saja yang bisa kesurupan? Semua orang berpotensi untuk mengalaminya, kecuali, mereka yang dawam dalam tilawah Qur'an dan berusaha memahami isinya serta mengamalkan dan berda'wah. Mereka para huffadz, yang senantiasa menghafal Qur'an dan tak lepas dari hafalannya. Mereka yang dawam dalam berdo'a dengan sepenuh hati dipagi dan sore hari.

Lalu si fulan/fulanah kesurupan padahal dia rajin membaca Qur'an.. kenapa ? Sangat mungkin, jika kekuatan pertahanan dirinya lebih lemah dari jin yang menyurupinya. Karena itu perkuat diri kita dengan amal-amal sholih dan kuatkan interaksi dengan Qur'an. Bisakah seseorang kesurupan pada daerah-daerah tertentu ..? Bisa saja, jika jin di daerah itu terganggu dan pertahanan kita lemah. Lalu perlukah kita "kulunuwun" kalau lewat daerah
tertentu dengan "permisi mbah.. cucumu numpang lewat.." dan semacamnya ? Tidak perlu..! Sebab dengan begitu menunjukkan kelemahan izzah manusia kita dihadapan jin. Padahal sesungguhnya mereka itu lemah, tertulis dalam Quran Surat Jin .

Kenapa mereka yang sedang berusaha giat beribadah kok diganggu jin dengan model kesurupan. Lha ia.. sebab kalau dia sedang mabuk minuman keras, jin gak perlu lagi mengganggu dia kan..?! karena jin itu syaithon yang fasik pada perintah Rabbnya.

Terakhir, Jika dirumah kita ada kucing yang tidur dalam rumah kita, makan dirumah kita dari sisa-sisa makanan kita, sementara ia tidak pernah mencuri makanan kecuali ia makan-makanan sisa kita yang kita buang dan ia tak pernah mengganggu harta, diri, serta anak-anak kita. Walau sebenarnya kita tak memelihara kucing itu. Layakkah kucing itu kita usir..? Tak perlu bukan..?! Demikianlah jin. Tak perlu repot repot ngusir jin dari rumah kita dengan berbagai cara, bahkan hingga pawang jin kita undang. Selama mereka tak mengganggu kita. Yang perlu adalah perkuat diri kita dengan 3 piranti diatas tadi. Misal, ketika kita menempati rumah baru dan didalamnya sudah ada jin yang lebih dahulu datang. Tak perlu takut dan sibuk cari pawang jin. Lakukan saja amal sholeh harian kita, dan biarkan mereka mendengar bacaan Qur'an kita, melihat sholat kita, mendengar nasehat kita pada anak-anak kita, melihat kelembutan sang ayah pada istri dan anaknya, menyaksikan bagaimana sang bunda bertanggung jawab atas titipan suaminya serta menjadi madrasah bagi anak-anaknya. Jika mereka para jin itu mengambil pelajaran, niscaya mereka akan beriman dan beribadah seperti kita, lalu dia akan berda'wah kekalangan jin yang lainnya. Jika dia tak juga beriman, niscaya ia akan gerah dan akan pergi dari rumah kita. Ingat bahwa anda yang punya rumah, bukan jin. Buktinya anda punya bisluit dan jin tidak punya, anda punya bukti pembayaran pajak dan jin tak punya. Enak saja mahluk yang numpang mau jadi tuan di rumah pribumi, tak ada kamusnya bukan..?!

Sekian, semoga bermanfaat.

- 13 Januari 2007


Sumber :

Wawan Setawan

http://www.pmij.org/index.php/content/view/99/38/

23 September 2009

Kerasukan Jin

Pertanyaan :

Bismillah,

Apakah manusia bisa kerasukan jin/jin bisa masuk pada tubuh manusia (Kesurupan)?, Apakah hadits berikut mengindikasikan bahwa manusia bisa kesurupan :

Utsman bin Abi al-’Ash r.a. berkata, ketika aku bekerja untuk Rasulullah saw. di Thaif, tiba-tiba aku melihat sesuatu dalam shalatku, sampai-sampai aku tidak tahu sedang shalat apa. Maka setelah kejadian itu aku menemui Rasulullah saw. Rasulullah berkata, ”Ibnu Abi al-’Ash?” Aku menjawab, ”Benar, ya Rasulullah.” Rasul bertanya, ”Apa yang membuatmu datang ke sini?” Aku menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku melihat sesuatu dalam shalatku sampai-sampai aku tidak tahu sedang shalat apa.” Nabi bersabda, ”Itu adalah setan (jin). Mendekatlah padaku!” Maka aku pun mendekat kepada Nabi, lalu aku duduk. Ibnu Abi al-’Ash berkata, ”Lalu Nabi memukul dadaku dengan tangannya dan meniup mulutku sambil berkata, ”Keluarlah musuh Allah!” Nabi melakukannya sebanyak tiga kali. Lalu Nabi berkata, ”Teruskanlah pekerjaanmu.” (H.R. Ibnu Majah 2:273 dan disahihkan Imam al-Bani)

Atas jawaban ustdaz Ana ucapkan terima kasih.

Wassalam

A. Haris

Jawaban :

Bismillahirrahmaanirrahiim

Kesurupan berasal dari bahasa sunda, yaitu surup. Surup asal artinya pantas atau serasi. Tetapi menjadi tenggelam bila disambung dengan panon poe atao bulan. Seperti surup panon poe. Adapun bila menjadi nyurup akan berarti roh halus, jin dll. ke dalam badan manusia. Maka dikenallah bahasa kasurupan dan di bahasa indonesiakan menjadi kesurupan atau kerasukan. Kamus lengkap bahasa sunda-Indinesia, Indonesia Sunda, Sunda-sunda. Susunan drs. Budi Rahayu Tamsyah Spk.

Di dalam bahasa inggris disebut trance yang berarti keadaan mabuk atau kemasukan roh atau setan.

Di dalam disiplin ilmu kedokteran dikenal dua istilah, yaitu hipnosa dan disosiasi

Hipnosa ialah kesadaran yang sengaja diubah (menurun dan menyempit, artinya hanya menerima rangsang dari sunber tententu). Melalui sugesti, mirip dengan tidur dan sangat mudah untuk disugesti. Setelah itu bila terus berlanjut dapat timbul amnesia.

Disosiasi ialah sebagaian tingkah laku atau memisahkan diri secara psikologik dari kesadaran. Kemudian terjadi amnesia sebagaian atau total.

Disosiasi ini dapat berupa TRANS (trance), yaitu keadaan kesadaran tanpa reaksi yang jelas terhadap lingkungan yang biasanya mulai dengan mendadak : mungkin terjadi imobilitas dan roman muka yang bengong/kehilangan akal atau melamun. Dapat ditimbulkan karena hipnosa atau depresi. (disarikan dari makalah singkat dr.Hari Rayadi Mrs.av.)

Inilah yang oleh orang-orang berkepercayaan syirik kesurupan atau kerasukan jin, roh halus atau hantu.

Adapun jin adalah satu makhluk gaib.

اَلجِنُ : عَالَمٌ غَيْرُ مَرْئِيٍ لِلْبَشَرِ حَسْبُ أَصْلِ خَلْقَتِهِ ، فَهُمْ مِنْ عَالَمِ الأَثِيرِ وُجُودٌ بِلاَ ظِلٍّ غَبْرُ قَابِلِينَ لِرُؤْيَةِ البَشَرِ ، فَالجِنُّ حَقِيقَةٌ وَاقِعَةٌ غَيْرٌ مَنْظُورَةٍ لَنَا بِدَلِيل قَوْلِ اللهِ تَعَالَى : {إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ }

Jin adalah alam yang tidak terlihat bagi manusia sesuai asal penciptaannya. Mereka adalah alam maya yang wujud tanpa bayangan, tidak untuk dilihat oleh manusia. Maka jin hakikat yang nyata tidak terlihat bagi kami dengan dalil Firman Allah : - Sesungguhnya ia dan kaumnya melihat kamu dengan keadaan yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan Syaitan-syaitan itu teman rapat bagi orang-orang yang tidak beriman.

Adapun pengertian gaib:

الَغَيْبُ : مَالاَ يَقَعُ تَحْتَ الحَوَاسِ وَلاَ تَقْتَضِيهِ بِدَايَةُ العُقُولِ وَ إِنِّمَا يُعْلَمُ بِخَبَرِ الأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ

Gaib ialah sesuatu yang tidak terjangkau oleh panca indera, tidak akan dapat disimpulkan oleh ketinggian akal, dan hanyalah dapat diketahui dengan melalui kabar-kabar para nabi alahimus salam. Ar- Ragib : 717.

Keterangan ini berdasarkan ayat-ayat sebagai berikut :

عَالِمُ الغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أحدا إِلاَّ مَنْ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا(27)

Ia Yang Maha mengetahui gaib, maka Ia tidak akan menampakkan atas kegaiban itu kepada seorang pun, melainkan kepada Rasul yang di redaiNya. Maka Ia mengadakan di hadapan dan di belakang Rasul itu malaikat-malaikat yang menjaga dan mengawasinya. Q.s. Al-jin : 27

Oleh karena itu di dalam ayat lainnya Rasulullah saw, diperintah oleh Allah swt. untuk menyampaikan ayat,


قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ(
50)

Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku tidak mengatakan kepada kamu (bahawa) perbendaharaan Allah ada di sisiku, dan aku pula tidak mengetahui perkara-perkara yang ghaib; aku juga tidak mengatakan kepada kamu bahawasanya aku ini malaikat, aku tidak menurut melainkan apa yang diwahyukan kepadaku”. Bertanyalah (kepada mereka): “Adakah sama orang yang buta dengan orang yang celik? Tidakkah kamu mahu berfikir?” Al-an’am : 50.

Demikian pula beliau mengetahui sedikit tentang jin setelah diberi wahyu oleh Allah swt. tentangnya.

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنْ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا(1)

Katakanlah (wahai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya: satu rombongan jin telah mendengar (Al-Quran yang aku bacakan), lalu mereka (menyampaikan hal itu kepada kaumnya dengan) berkata: `Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran (sebuah Kitab Suci) yang susunannya dan kandungannya sungguh menakjubkan!. Q.s.aljin : 1

Berdasarkan keterangan-keterangan ini jelas sekali bahwa jin termasuk makhluk gaib. Dan Rasulullah saw. pun mengetahui hal itu hanya merupakan wahyu.

Jadi, haruslah dibedakan antara jin dengan iblis. Dan malaikat, Iblis, dan jin termasuk jenis jin. Mereka adalah makhluk gaib yang tidak akan dapat dilihat atau dirasakan oleh panca indra manusia.

Adapun mengenai bisikan-bisikan yang buruk atau bisikan yang memerintah manusia kepada kemaksiatan, tentu itu merupakan bisikan setan, baik yang berasal dari bangsa jin ataupun manusia.. Dengan demikian, mustahil jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Tegasnya mereka hanya dapat mengerjakan yuwaswisu fi shudurinnas.

Adapun mengenai hadis

Kejadian yang dialami oleh Usman bin Abu al-Ash, ia ditepuk dadanya yang diganggu setan di dalam salatnya, bahkan sampai ia lupa sedang salat apa adalah kejadian sering dialami oleh yang sedang salat. Itulah gangguan setan. Lalu Rasulullah saw. memukul dada Usman sambil ditiupnya mulut Usman oleh beliau seraya bersabda,”Keluarlah wahai musuh Allah.!”

Cara ini pun sering dilakukan oleh Rasulullah saw. untuk menguatkan mental atau batin sahabat yang memiliki masalah mental. Umpamanya di dalam hadis Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim diceritakan bahwa ketika Fatimah putri Rasulullah saw. merasa kesulitan dan berat mengurusi pekerjaan rumah tangga, lalu ia meminta agar Rasulullah saw. memberinya seorang pembantu, Rasulullah saw. tidak memberinya pembantu, tetapi beliau menekan dada Fatimah dengan lutut beliau dan Fatimah diperintah membaca zikir tertentu sebelum tidur.”

Tentu saja walaupun Rasulullah saw. menekan dada Fatimah dengan lututnya, hal itu sama dengan Rasulullah saw. memukul dada Usman dan meniup mulutnya. Artinya, kemalasan, perasaan tidak mampu menghadapi pekerjaan keseharian sebagai ibu rumah tangga merupakan penyakit yang dimasukkan oleh setan ke dalam hati manusia. Hal ini seperti sering kehilangan kekhusyuan di dalam salat.

Jadi cara Rasulullah saw. ini adalah cara mendorong mental agar menjadi kuat dengan melalui sugesti.

Jadi sering terganggu/diganggu setan di dalam salat adalah merupakan hal yang buruk dan harus dihilangkan. Karena jangankan melamun akibat melihat sesuatu, hanya menoleh pun di dalam salat sudah dikatakan dicuri sesuatu dari salatnya oleh setan.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الِالْتِفَاتِ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ هُوَ اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ

Dari Aisyah, ia berkata,”Saya bertanya kepada Rasulullah saw. tentang menoleh di dalam salat, beliau menjawab,’Itu adalah pencurian yang dilakukan oleh setan dari salat seorang hamba.” H.r. Al-Bukahri. 709.

Jadi, janganlah karena jin tidak dapat bertindak apa-apa kepada manusia, lalu selalu menjadi sasaran. Yang jelas setan itu selalu membisikan hal-hal buruk kepada manusia, maka janganlah diikuti dan harus dilawan

Wallahu a’lam

Wassalaam

- 26 Juni 2008

Sumber :

http://persis.or.id/?p=97

23 September 2009

Makna Jin Dibelenggu di Bulan Ramadhan

Assalamualaikum pak ustad,

Saya mohon penjelasan tentang makna surat arro'd:11 yang artinya:

11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Apakah memang benar setiap kita diikuti oleh malaikat2 (selain malaikat pencatat amal). Bagaimana pula dengan hadits yang kalau tidak salah ada yang menerangkan bahwa setiap manusia ada yang mengikuti dari golongan jin, dan kaitannya dengan puasa ramadan,bahwa jin dan syetan dibelenggu?

Terima kasih,

Wassalamu 'alaikum

B.A

JAWABAN

Waalaikumussalam Wr Wb

Malaikat Penjaga Manusia

Firman Allah swt :

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ



Artinya : ”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar ro’du : 11)

Firman Allah lainnya :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴿١٦﴾
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ ﴿١٧﴾
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ ﴿١٨﴾



Artinya : ”Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qoff : 16 – 18)

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Didalam diri kalian terdapat malaikat malam dan malaikat siang yang saling bergantian. Mereka bertemu disaat shalat shubuh dan shalat isya lalu malaikat yang bermalam didalam dirimu naik keatas. Mereka pun ditanya Allah swt dan DiaYang Maha Mengetahui tentang mereka,”Bagaimana keadaan hamba-Ku saat kamu tinggalkan?” Mereka menjawab,”Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datangi mereka juga dalam keadaan shalat.”

Didalam menafsirkan ayat 11 suart ar Ro’du, Ibnu Katsir mengatakan bahwa dua malaikat berada di sebelah kanan dan kiri menuliskan amal-amal. Malaikat yang ada di sebelah kanan mencatat amal-amal kebaikan sementara yang berada di sebelah kiri mencatat amal-amal keburukan. Dua malaikat lainnya menjaganya dan melindunginya. Satu malaikat berada di belakangnya sedang satu lagi berada di depannya sehingga jumlah mereka ada empat malaikat di siang hari. Dan empat malaikat lainnya pada malam hari menggantikan malaikat-malaikat yang di siang hari yang terdiri dari dua malaikat penjaga dan dua malaikat pencatat, sebagaimana hadits Abu Hurairoh diatas. (Tafsir al Qur’an al Azhim juz

Tentunya penjagaan malaikat terhadap manusia dari berbagai keburukan, kecelakaan, musibah adalah atas perintah dan izin Allah swt dan berjalan sesuai dengan ketetapan-Nya atas diri orang itu. Malaikat penjaga ini tidaklah bisa mencegah segala musibah, keburukan yang telah ditetapkan Allah kepada orang itu sebagaimana disebutkan di bagian akhir ayat itu,”... Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar Ro’du : 11)

Jin Yang Menyertai Diri Manusia

Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw bersabda,”Tidaklah seorang dari kalian kecuali ada yang menyertainya dari kalangan jin dan dari kalangan malaikat.” mereka bertanya,”Anda juga?” beliau saw menjawab,”Saya juga akan tetapi Allah swt telah menyelamatkanku dan menjadikannya masuk islam sehingga dia tidak memerintahkanku kecuali kebaikan.”

Al Qodhi mengatakan,”Dan ketahuilah bahwa umat telah bersepakat akan perlindungan Nabi saw dari setan pada jasad, pemikiran dan lisannya.” Didalam hadits ini terdapat isyarat agar waspada terhadap fitnah setan yang menyertainya dari bisikan-bisiskan dan peneyesatannya, dan kita menjadi tahu bahwa setan iu bersama kita agar kita berhati-hati darinya dengan sekuat seluruh kemampuan kita.” (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz XVII hal 230 – 231)

Syeikh ’Athiyah Saqar mengatakan bahwa setiap manusia disertai oleh jin dan malaikat. Malaikat yang menyertainya adalah yang memelihara manusia sebagaimana firman Allah swt surat Ar Ro’du ayat 11 diatas dan malaikat yang menolongnya untuk kebaikan atau yang lainnya. Sedangkan jin yang menyertainya itu berusaha menyesatkannya. Sungguh Iblis telah bersumpah dengan kebesaran Allah bahwa dia akan menyesatkan manusia seluruhnya kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas. (Fatawa al Azhar juz VIII hal 63)

Setan Dibelenggu Di Bulan Ramadhan

Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda,”Apabila datang Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” didalam riwayat Ibnu Khuzaimah didalam shahihnya disebutkan sabdanya saw,”Apabila malam pertama dari bulan Ramadhan maka setan-setan dibelenggu yaitu jin-jin yang durhaka..”

Jin-jin yang durhaka adalah yang secara total berbuat kejahatan. .. dikatakan bahwa hikmah dari diikat dan dibelenggunya setan adalah agar tidak membisik-bisikan kejahatan kepada orang-orang yang berpuasa. Dan tanda-tandanya adalah banyaknya orang-orang yang tenggelam didalam kemaksiatan kembali bertaubat kepada Allah swt.

Adapun apa yang terjadi sebaliknya pada sebagian mereka maka sesungguhnya itu adalah pengaruh-pengaruh dari bujuk rayu setan yang telah tenggelam didalam jiwa-jiwa orang-orang pelaku kejahatan serta menghujam didalamnya...

Al Hafizh didalam ”al Fath” mengatakan bahwa Iyadh mengatakan,”Kemungkinana bahwa lahiriyah dan hakekatnya adalah itu semua tanda bagi malaikat untuk memasuki bulan (Ramadhan) dan mengagungkan kehormatan bulan itu serta mencegah setan-setan untuk menyakiti orang-orang beriman. Dan bisa juga berarti suatu isyarat akan banyaknya pahala dan ampunan dan bahwa setan dipersempit upayanya untuk menyesatkan mereka sehinga mereka bagaikan terbelenggu.”

Dia berkata,”Kemungkinan kedua itu diperkuat dengan sabdanya saw yang diriwayatkan oleh Muslim ’pintu-pintu rahmat dibuka’ dia mengatakan bahwa lafazh ’pintu-pintu surga dibuka’ adalah ungkapan tentang apa yang dibuka Allah bagi hamba-hamba-Nya berupa ketaatan yang menjadi sebab masuknya ke surga. Sedangkan lafazh ’pintu-pintu neraka ditutup’ adalah ungkapan tentang dihindarinya dari berbagai keinginan kuat untuk melakukan maksiat yang dapat menjatuhkannya ke neraka. Sedangkan lafazh ’setan-setan dibelenggu’ adalah ungkapan akan lemahnya setan untuk melakukan penyesatan dan penghiasan terhadap syahwat.”...

Al Qurthubi mengatakan,”Apabila anda ditanya tentang bagaimana pendapatmu tentang berbagai keburukan dan kemaksiatan yang banyak terjadi di bulan Ramadhan dan seadainya setan itu dibelenggu tentunya hal itu tidaklah terjadi?” Maka jawabnya adalah ,”Sesungguhnya bahwa kemaksiatan itu akan mengecil terhadap orang-orang yang berpuasa yang memelihara syarat-syarat puasanya dan memperhatikan adab-adabnya” atau ”Dibelenggunya sebagian setan sebagaimana disebutkan didalam sebagian riwayat yaitu riwayat Tirmidzi dan Nasai bahwa mereka yang dibelenggu adalah para pemimpinnya bukan seluruh setan” atau ” maksudnya adalah ”Meminimalkan kejahatannya di dalam bulan itu”

Itu adalah perkara yang bisa diraba, maka sesungguhnya kejadian itu didalam bulan ramadhan lebih sedikit dari bulan lainnya. Jadi tidak mesti dengan dibelenggunya seluruh setan maka tidak akan terjadi satu kejahatan atau satu kemaksiatan karena disisi lain terdapat banyak sebab lainnya yang bukan dari setan seperti jiwa-jiwa yang kotor, kebiasan-kebiasaan buruk, setan manusia dan lainnya.” (Tuhfatul Ahwadzi juz II hal 219)

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo, Lc.


- 2 September 2009

Sumber :

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/makna-surat-arro-d-11.htm

23 September 2009